JERAMI
PADI SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL MENJADI ENERGI MURAH DAN EFISIEN
Jerami
padi merupakan salah satu material lignoselulosa terbuang yang terbesar di dunia.
Dalam tingkatan produksinya, padi menduduki rangking ketiga sebagai tanaman
biji-bijian disamping jagung dan gandum. Dalam setiap panennya, setiap kilogram
padi senantiasa disertai dengan produksi jerami 1-1,5 kg. Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat angka sementara peningkatan produksi padi pada tahun 2013 sebesar
2,24 juta ton atau 3,24 persen dibandingkan tahun 2012 silam. Sehingga,
produksi padi pada tahun 2013 tercatat sebesar 71,29 juta ton Gabah ering
Giling (GKG) (Setiawan,
2014).
Pemanfaatan
jerami pada saat ini tergolong masih rendah misalnya sebagai pakan ternak.
Pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak kurang efektif dikarenakan hanya
memberikan sedikit cost value bagi
petani. Pada kenyataannya jerami hanya dibakar dengan tujuan untuk mempercepat
persiapan tanah untuk masa tanam berikutnya serta untuk menghindari penyebaran hama.
Namun demikian pembakaran jerami mengakibatkan sebagian unsur hara hilang
terutama unsur-unsur hara mudah menguap (volatile)
dan juga polusi udara dan gangguan kesehatan petani dan masyarakat sekitar (Husnain, 2009).
Guna
mengatasi permasalahan di atas, cara tepat yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan cost value adalah dengan
memanfaatkan sebagai bio-etanol. Jerami padi memiliki beragam karakteristik
yang membuatnya berpotensial dalam produksi bio-etanol. Jerami padi secara
dominan mengandung selulosa (32–47%), dan hemiselulosa (19–27%), dan dapat
dihidrolisis secara lebih cepat dalam fermentasi. (Parameswaran, 2009). Selulosa
merupakan bahan yang kaya akan karbon dan dapat dimanfaatkan dalam proses
fermentasi mikroba. Dalam hal ini, selulosa dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan etanol dengan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae. (Shofiyanto,
2008).
Bio-etanol dihasilkan melalui proses fermentasi dan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain jenis mikroorganisme dan substrat (Yuniarsih, 2009).
REFERENSI
Husnain. (2009).
Kehilangan Unsur Hara Akibat Pembakaran Jerami Padi dan Potensi Pencemaran
Lingkungan. Balai Penelitian Tanah, 91 - 96.
Parameswaran, R. S.
(2009). Bioethanol Production from Rice Straw : Overview. Bioresource
Technology, 4767 - 4774.
Setiawan, S. R.
(2014, Maret 3). Produksi Padi Tahun 2013 Naik 2,24 Juta Ton.
Retrieved from Kompas.com: (http://bisniskeuangan.kompas.com
Shofiyanto, M. E. (2008). Hidrolisis Tongkol Jagung oleh Bakteri
Selulotik untuk Produksi Bioetanol dalam Kultur Campuran. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Yuniarsih, F. N.
(2009). Pembuatan Bioetanol dari Dekstrin dan Sirup Glukosa Sagu
(Metroxylon sp.) Menggunakan Saccharomyces Cerevisiae var. Ellipsoideus.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
No comments:
Post a Comment