Friday, November 28, 2014

JERAMI PADI SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL MENJADI ENERGI MURAH DAN EFISIEN

JERAMI PADI SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL MENJADI ENERGI MURAH DAN EFISIEN

Jerami padi merupakan salah satu material lignoselulosa terbuang yang terbesar di dunia. Dalam tingkatan produksinya, padi menduduki rangking ketiga sebagai tanaman biji-bijian disamping jagung dan gandum. Dalam setiap panennya, setiap kilogram padi senantiasa disertai dengan produksi jerami 1-1,5 kg. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka sementara peningkatan produksi padi pada tahun 2013 sebesar 2,24 juta ton atau 3,24 persen dibandingkan tahun 2012 silam. Sehingga, produksi padi pada tahun 2013 tercatat sebesar 71,29 juta ton Gabah ering Giling (GKG) (Setiawan, 2014).
Pemanfaatan jerami pada saat ini tergolong masih rendah misalnya sebagai pakan ternak. Pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak kurang efektif dikarenakan hanya memberikan sedikit cost value bagi petani. Pada kenyataannya jerami hanya dibakar dengan tujuan untuk mempercepat persiapan tanah untuk masa tanam berikutnya serta untuk menghindari penyebaran hama. Namun demikian pembakaran jerami mengakibatkan sebagian unsur hara hilang terutama unsur-unsur hara mudah menguap (volatile) dan juga polusi udara dan gangguan kesehatan petani dan masyarakat sekitar (Husnain, 2009).
Guna mengatasi permasalahan di atas, cara tepat yang dapat dilakukan untuk meningkatkan cost value adalah dengan memanfaatkan sebagai bio-etanol. Jerami padi memiliki beragam karakteristik yang membuatnya berpotensial dalam produksi bio-etanol. Jerami padi secara dominan mengandung selulosa (32–47%),  dan hemiselulosa (19–27%), dan dapat dihidrolisis secara lebih cepat dalam fermentasi.  (Parameswaran, 2009). Selulosa merupakan bahan yang kaya akan karbon dan dapat dimanfaatkan dalam proses fermentasi mikroba. Dalam hal ini, selulosa dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan etanol dengan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae.  (Shofiyanto, 2008). Bio-etanol dihasilkan melalui proses fermentasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis mikroorganisme dan substrat (Yuniarsih, 2009).

REFERENSI

Husnain. (2009). Kehilangan Unsur Hara Akibat Pembakaran Jerami Padi dan Potensi Pencemaran Lingkungan. Balai Penelitian Tanah, 91 - 96.
Parameswaran, R. S. (2009). Bioethanol Production from Rice Straw : Overview. Bioresource Technology, 4767 - 4774.
Setiawan, S. R. (2014, Maret 3). Produksi Padi Tahun 2013 Naik 2,24 Juta Ton. Retrieved from Kompas.com: (http://bisniskeuangan.kompas.com
Shofiyanto, M. E. (2008). Hidrolisis Tongkol Jagung oleh Bakteri Selulotik untuk Produksi Bioetanol dalam Kultur Campuran. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Yuniarsih, F. N. (2009). Pembuatan Bioetanol dari Dekstrin dan Sirup Glukosa Sagu (Metroxylon sp.) Menggunakan Saccharomyces Cerevisiae var. Ellipsoideus. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

No comments:

Post a Comment